468x60 ads




Macam-Macam Fi'il


المعربات و المبنيات من الافعال
JENIS FI'IL: MU'ROB DAN MABNI

 
  1. SISTEMATIKA
    PEMBAHASAN
  2. Definisi fiil
  3. Karakteristik fiil
  4. Klasifikasi fiil
  5. Klasifikasi fiil mu'rob
  6. Klasifikasi fiil mabni

 
  1. PEMBAHASAN
    1. Definisi fiil
Agus Shohib Khoironi mengatakan: مَا دَلَّ عَلَى مَعْنًى مُقْتَرَنٌ بِزَمَانٍ مُعَيََّنٍ مَاضِيًا كاَنَ أَوْ حَالاً أَوْ إِسْتِقْبَالٍ
  1. 'Kata yang menunjukkan makna sesuatu yang disertai dengan waktu baik lampau, sekarang maupun esok.'
    1. Karakteristik fiil
Tanda-tanda baku yang dapat mengarahkan kita pada suatu fiil dengan seketika agaknya tidak sama dengan pedoman baku yang memudahkan kita dalam mengetahui suatu isim dengan cepat. dalam kajian ini, akan dipahami lebih mudah tentang tanda-tanda yang dapat mengarahkan kita untuk mendeteksi fiil secara cepat bahkan secara otomatis dapat mengetahui jenis fiil berdasarkan tandanya, karena pada dasarnya tanda ini ada karena perbedaan waktu pada fiil.

  1.  
    1. Klasifikasi fiil
Klasifikasi fiil dengan didasarkan pada berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut:
      1. Menurut waktunya
        1. Fiil madli
        2. Fiil mudhori'
        3. Fiil amar
      2. Menurut bentuknya
        1. Fiil mabni
        2. Fiil mu'rob
      3. Menurut sifatnya yang butuh pada maf'ul
        1. Fiil lazim (kata kerja tak berobyek/ intransitif)
        2. Fiil muta'addi (kata berobyek/ transitif)

 
      1. Menurut penegasnya
        1. Fiil muakkad
        2. Fiil ghoir muakkad
      2. Menurut failnya
        1. Fiil mabni ma'lum (kata kerja aktif)
        2. Fiil mabni majhul (kata kerja pasif)
      3. Menurut bina'nya (unsur penyusunnya)
        1. Fiil salim
        2. Fiil mu'tal
      4. Menurut jumlah huruf
        1. Fiil tsulasi
          1. Fiil tsulasi mujarrod
          2. Fiil tsulasi mazid
        2. Fiil ruba'i
          1. Fiil rub'I mujarrod
          2. Fiil rub'I mazid
      5. Menurut sifatnya yang dapat berubah kedalam bentuk lain
        1. Fiil jamid
        2. Fiil mutashorrif

 
    1. Klasifikasi fiil mu'rob
Seperti dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa mu'rob adalah keadaan suatu kata yang dapat berubah-ubah dikarenakan amil yang mempengaruhinya. Begitu juga pada fiil, fiil yang mu'rob adalah fiil mudhori', namun dengan kriteria dan keadaan tertentu. Karena pada asalnya, kalimat fiil dan juga kalimat huruf adalah mabni.
Selanjutnya, sifat mu'rob fiil mudhori' terjadi ketika sunyi dari adanya nun jamak inats (nun yang menunjukkan pelaku (subjek) perempuan plural -ّ
هن) dan nun taukid (nun yang berfungsi menegaskan fiil). Jika hal itu terjadi, maka fiil mudhori'bersifat mabni. Yaitu mabni sukun jika bertemu nun jamak inats, dan mabni fathah jika bertemu nun taukid.
Sifat fiil mudhori' yang berbeda dengan hukum asli fiil yang mabni, karena ada alas an tertentu yaitu keserupaan fiil mudhori' dengan isim --dalam hal ini adalah isim fail-- dalam makna dan lafadznya. Dalam lafadznya, keduanya sama dalam jumlah huruf, harokat dan sukun.يكتب dengan كاتب , يكرم dengan مكرم ,dan dalam maknanya, keduanya bermakna hal (sekarang) dan istiqbal (mendatang).
Dalam susunan kalimat, Fiil mudhori' ada yang dibaca rofa' (marfu'), nashob (mansub), dan jazem (majzum), dan kei'robannya bisa secara implicit (lafdzon), eksplisit (taqdiron), atau maĥal.
Fiil mudhori'dibaca rafa' ketika sunyi dari 'amil nashib dan 'amil jazim. Dan tanda rofa'nya adalah dhommah dhohiroh (tampak di akhir kata). Contoh: يفوز المتقون (lafdzon), يعلو قدر من يقضي بالحق (dikira-kirakan).
Fiil mudhori' mansub (dibaca nashob) ketika ada 'awamil al-nashibah yang mempengaruhinya. Contoh: لن أقول إلا الحق
'Awamil al-nashibah tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
      1. 'Awamil al-nashibah yang menasobkan dengan sendirinya, ada empat, yaitu:
        1. ان, yaitu huruf masdariyyah, huruf nashob, dan huruf istiqbal. Contoh: يريد الله أن يخفف عنكم (al-nisa: 28)
Huruf ini dinamakan huruf masdariyah adalah karena ia menjadikan kata setelahnya dalam takwilan masdar. Dalam contoh diatas berarti يريد الله التخفيف عنكم.
Dinamakan juga huruf nashob, karena dapat membuat fiil mudhori' dibaca nashob. Dan dinamakan pula huruf istiqbal karena menunjukkan waktu istiqbal (masa datang) murni.
        1. لن, yaitu huruf nashob, huruf nafi, dan huruf istiqbal. Contoh: لن يخلقوا ذبـــابا
Huruf ini dinamakan huruf nafi karena berfungsi untuk menegaskan negatifnya (nafi)-nya zaman istiqbal, seperti س dan سوف untuk menegaskan positifnya zaman istiqbal.
        1. إذن, yaitu huruf jawab, huruf jaza', huruf nashob dan huruf istiqbal. Contoh: إذن تفلح sebagai jawaban dari perkataan orang سأجتهد .
Dinamakan huruf jawab karena menjadi jawaban atas perkataan yang mendahuluinya. Dinamakan juga huruf jaza' (arab: balasan), karena kalam yang dimasuki إذن berarti ungkapan balasan bagi kalam sebelumnya. Namun hal ini tidak selalu begini, kadang juga hanya berfungsi sebagai jawaban saja, yang tidak mengandung pernyataan balasan. Seperti : إني أحبك dan dijawab إذن أظنك صادقا.
Namun fungsi huruf ini sebagai amil yang menasobkan tidak akan terjadi bila tidak memenuhi tiga syarat berikut:
          1. Berada di awal jumlah (arab: kalimat). Berarti tidak didahului oleh kata apapun yang terkait dengan setelahnya إذن. Seperti lafadz yang berada setelahإذنْ menjadi khobarnya kata sebelumnya إذنْ, contoh: أنا إذنْ أكافئُك, atau sebagai jawabnya qosam (arab: sumpah), seperti: والله إذنْ لاأفعلُ, atau jawabnya syarat (arab: ungkapan pengandaian), seperti: إنْ تَزُرْني إذنْ أزورُك. fiil mudhori' dalam kalimat semua itu tidak dibaca nashob.
          2. Fiil mudhori' setelahnya menunjukkan istiqbal, jika tidak maka dibaca rofa' seperti: إني أحبك dan dijawab إذن أظنك صادقا. Karena ungkapan ini menunjukkan hal (arab: sekarang).
          3. Tidak ada pemisah antara إذن dengan fiil mudhori' setelahnya. Bila tidak maka dibaca rofa', seperti contoh: إذن هم يقومون بالواجب, jawaban dari ungkapan: يجود الأغنياء بالمال في سبيل العلم.
Dalam kitab Audhoh al-Manahij ada satu syarat tambahan lagi, yaitu:
        1. Berfaidah jaza' (sebagai balasan dari ungkapan sebelumnya), jika tidak maka dibaca rofa'. Seperti: إني أحبك dan dijawab إذن أظنك صادقا.
        2. كي, yaitu huruf masdariyyah, huruf nashob dan huruf istiqbal. Contoh: جئت لكي أتعلّم. pada umumnya didahului lam ta'lil (untuk menunjukkan alasan, keterangan, dan dorongan) seperti: لكي تأسوا على ما فاتكم (al-Hadid: 23), jika tidak ada maka sesungguhnya lam tersebut tersimpan (dikara-kirakan) seperti: أستقم كي تفلح.

 
      1. 'Awamil al-nashibah yang meyimpan
        ان مضمرة sebagai sebab nashobnya fiil mudhori'. Dan ragam tersimpannya ان مضمرة ini ada dua, yaitu:
        1. Hukum tersimpannya ان مضمرة itu bersifat jaiz (boleh ya boleh tidak), jika berada setelah enam huruf berikut;
          1. لام كي, disebut juga لام التعليل, yaitu lam huruf jer yang menunjukkan kata setelah لام sebagai 'illat (alasan, dorongan) tujuan, dan sebab atas kata sebelumnya, atau dalam kata lain, kata sebelumnya لام كي adalah sebagai maksud dan tujuan terciptanya kata setelahnya لام كي. Contoh: وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس (an-Nahl: 44). Secara batiniahnya adalah: لأجل أن تبين .
Tersimpannya ان مضمرة setelah لام كي ini selama tidak didahului oleh لا النافية atau لام الزائدة, jika memang didahului maka harus menampakkan ان مضمرة. yang didahului لا النافية seperti: لَِئَلاَّ يَكوُنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةٌ (al-Nisa: 165), dan yang didahului لام
الزائدة seperti: لِئَلاَّ يَعْلَمَ أَهْلُ اْلِكَتابِ (al-Hadid: 29)
          1. لام العاقبة, atau disebut juga لام الصيرورة/ لام المآل/ لام النتيجة, yaitu lam huruf jer yang menunjukkan kata setelahnya sebagai akibat dan hasil pekerjaan dari kata sebelumnya, tidak sebagai sebab dan Alasan dari kata sebelumnya seperti yang ada pada لام كي. Contoh:
فَاْلتَقَطَهُ ءَالَ فِرْعََوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًا ((al-Qoshosh: 8
1.      واو العاطفة, seperti : يأبى الشجاع الفرار ويسلم, asalnya: وأن يسلم
2.      الفاء العاطفة, seperti: تعبك فتناول المجد خير من راحتك فتحرم القصد, asalnya: خير من راحتك فحرمانك القصد
3.      ثم العاطفة, seperti: يرضي الجبان بالهوان ثم يسلم, asalnya: ثم السلامة
4.      أو العَاطِفَةُ, seperti: المَوْتُ أَوْ يَبْلُغَ اْلانِْسَانُ مَأْمَلَهُ أَفْضَلُ, asalnya: الَموْتُ أَوْ بُلُوْغُهُ اْلاَمَلَ أَفْضَلُ. Dan juga firman Allah:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُّكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابً أَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلاً (al-Syuro: 51)
Asalnya: إلا وَحْيًا, أَوْ إِرْسَالُ رَسُوْلٍ
1.      Hukum tersimpannya ان مضمرة itu bersifat wajib (harus), jika berada setelah lima huruf berikut:
1.      لام الجحود , atau disebut juga oleh sebagian ulama, sebagai لام النفي, yaitu lam huruf jer yang berada setelah كان الناقصة yang nafi. Seperti:
فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذْتُهُ الَّصْيحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلاَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوْا أَنْفُسَهُمْ يَِظْلِمُوْنَ(al-'Ankabut: 40)
1.      حتى, yaitu huruf jer yang yang bermakna إلى atau لام التعليل, seperti:
·         Yang bermakna إلى: قالوا لن نبرح عليه عاكفين حتى يرجع إلينا موسى (thoha: 91). Berarti: إلى أن يرجع
·         Yang bermakna لام التعليل: أطع الله حتى تفوز برضاه berarti: ولتفوز
1.      أو. Huruf
ini dapat berlaku sebagai amil nashob dengan syarat harus menyimpan maknanya إلى dan إلا الاستثنائية, seperti:
·         Yang bermakna إلى:
لأستسهلنّ الصعب أو أدرك المنى ¯ فما أنقادت الأمـــــآل إلا لصابر
أي إلى أن يدرك
·         Yang bermakna إلا الاستثنائية:
وكنت إذا غـــــمزت قنــاة قــــوم     ¯ كسرت كعوبـــها أوتســــــــتقيما
أي إلا أن تستقيم
لأقتلنّ الكافر أو يسلم, أي إلا يسلم
1.      فاء السبيبة, yaitu huruf yang menjelaskan bahwa kata sebelumnya menjadi sebab bagi kata setelahnya, karenanya dinamakanlah فاء السبيبة. Contoh:
كلوا من طيبات مارزقناكم ولا تطغوا فيه فيحلّ عليكم غضبي (Thoha: 81)
1.      واو المعية, yaitu huruf yang menjelaskan terjadinya lafadz sebelumnya dengan syarat bersamaan dengan keberadaan lafadz setelahnya. Dan menggunakan maknanya مع, yang berarti مصاحبة (bersamaan/ beriringan). Contoh: لم أنصح بشيء وأخالفه, لاتأكل السمك وتشرب اللبن
Sebagai tambahan, syarat أو
المعية dan فاء السبيبةdapat beramal sebagai amil al-nashib, yaitu harus berkedudukan sebagai jawabnya nafi atau tholab yang murni. Syarat kedua huruf tersebut terangkum dalam bait berikut:
مُرْوَانْهُ وَادْعُ وَسَلْ وَاعْرِضْ لِحَضِّهِمْ    ¯     تَمَنَّ وَارْجُ كَذَاكَ النَّفْيُ قَدْ كَمُلاَ
1.      Amar, baik dengan shighotnya maupun dengan lam amar: آتني فأكرمَك, لينفق ذو سعة من سعته فأحسنَ إليه
1.      Nahi: لاترم علما وتتركَ التعب, فتتركَ التعب
2.      Doa: وفقني فأعملَ صالحا, وأعملَ صالحا
3.      Istifham: من يستنصرني فأنصرَه, وأنصرَه
4.      'irdh: لولا تنزل عندنا فتصيبَ خيرًا, وتصيبَ خيراً
5.      Tahdhidh, opposite dari 'irdh: هلا تكرم زيدا فيحسن إليك ويحسن إليك
6.      Tamanni: ليت لي مالاً فأنفقَ منه, وأنفقَ منه
7.      Tarojji: لعلَّ الحبيب قادم فأزورَه, وأزورَه
2.      Nafi: baik dengan huruf (لم, لمّا, لن, إن, ما, لا, لات), seperti: لَمْ يَجْتَهِدْ فَيُفْلِحَ, atau dengan fiil, seperti: لَيْسَ اْلجَهْلُ مَحْمُوْدٌ فَتُقْبِلَ عَلَيْهِ, ataupun dengan isim, seperti: اَلْحِلْمُ غَيْرُ مَذْمُوْمٍ فَتُنْقِرَ مِنْهُ.
Bila syarat diatas tidak terpenuhi, maka fiil mudhori' yang jatuh setelah fa sababiyyah atau wawu ma'iyyah, tetap dibaca rofa'.

 
Kemudian, fiil mudhori' majzum (dibaca jazem) bila didahului oleh 'awamil al-jawazim, yaitu sebagai berikut:
1.      'Awamil al-jawazim yang menjazemkan satu fiil, ada empat huruf, yaitu:
1.      لم, yaitu huruf nafi, huruf jazem, dan huruf qolb (memindah zaman mudhori' yang awalnya istiqbal atau hal menjadi madhi), seperti: لم أكتبْ
2.      لما, sama dengan huruf diatas. Contoh: لما أكتبْ
Perbedaan dua huruf diatas:
1.      لم menafikan waktu lampau secara muthlaq (Indonesia: tidak) namun boleh juga meneruskannya hingga waktu sekarang/الحال atau bahkan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan (الاستمرار), contoh: لم يلدْ ولم يولدْ (al-Ikhlas: 3), jadi dalam ayat ini menegaskan bahwa Allah sekali-kali tidak dilahirkan maupun melahirkan, baik dari dulu, sekarang atau bahkan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan (الاستمرار).
Sedang لمَّا menafikan waktu lampau (الماضي) secara menyeluruh hingga waktu kini (الحال) saja (indonesia: belum), tidak boleh lebih dari itu. Maka oleh karenanya maka huruf ini juga disebut حرف الاستغراق yang berarti menafikan zaman madhi secara total.
2.      Nafi dengan لم, berarti tidak menunggu aktualitanya karena pada hakikatnya ia tidak menghasilkan apa-apa (hanya merupakan negative word), sedang nafi dengan لمَّا berarti masih menunggu aktualitanya, karena pada hakikatnya ia tertunda.
3.      Huruf لم boleh terletak setelah huruf syarat, contoh: إن لم تجتهدْ تندمْ, sedang لمَّا tidak demikian.
4.      Boleh membuang majzum-nya (fiil mudhori' yang majzum) huruf لمَّا, sedang لم tidak demikian. Contoh: قاربت المدينة ولمَّا, maksudnya: ولمَّا أدخلها
1.      لام الامر, yaitu amar dengan bentuk mudhori' yang digandeng dengan لام
الامر, maknanya sama dengan tujuan asli amar, yaitu tuntutan untuk melaksanakan yang disebutkan. Contoh: لينفقْ ذو سعة من سعته
2.      لاالناهية, negasi dari sebelumnya, yaitu tuntutan untuk meninggalkan yang disebutkan, seperti:

ولا تجعلْ يدك مغلولة إلى عنقك ولا تبسطها كل البسط فتقعد ملوما محسوراً
(al-Isro': 29)
1.      'Awamil al-jawazim yang menjazemkan dua fiil mudhori', fiil yang pertama disebut fiil syarat dan fiil yang kedua disebut fiil jawab, ada 13 amil, yaitu:
1.      إن. Huruf ini merupakan pokok/ intisari bagian 'Awamil al-jawazim ini. Karena 'awamil selanjutnya hanya meyimpan maknanya untuk kemudian bisa menjazemkan dua fiil mudhori'. Contoh:
وَإِنْ تُبْدُوْا مَا ِفيْ أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهُ (al-Baqoroh: 248)
1.      إِذْمَا,
2.      مَنْ, yaitu isim mubham (arab: samar) yang menjelaskan objek yang berakal (manusia), contoh: مَنْ يَعْمَلْ سُوْءًا يُجْزَ بِهِ (al-Nisa: 123)
3.      مَا, isim mubham yang menjelaskan objek yang tidak berakal (seluruh benda selain manusia), contoh: وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللهُ (al-Baqoroh: 197)
4.      مَهْمَا, sama dengan مَا, yaitu menjelaskan objek yang tidak berakal, seperti:

وَقَالُوْا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ أَيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِيْنَ( al-A'rof: 132)
1.      مَتَى, isim zaman yang menyimpan makna syarat, seperti syair:
متى تأته تعــــشو إلى ضـــــوء ناره    ¯    تجد خيــر نار عندهــــا خير موقد
1.      أَيَّانَ, isim zaman yang menyimpan makna syarat, seperti syair:
أيَّان نؤمــــــــنْك تأمنْ غيــــــرنَا وإذ    ¯    لم تدرِكِ الأَ مَنَ منا لم تزل حــَذِرا
1.      اين, isim makan (tempat) yang menyimpan makna syarat seperti: أَيْنَ تَنْزِلْ أَنْزِلْ
أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْــــكُمُ الْمَوْتُ (al-Nisa: 78)

Pada umumnya, isim ini sering ditambah dengan ماالزائدة, dengan tujuan untuk menegaskan (taukid) seperti contoh diatas.
1.      أنّى, isim makan yang meyimpan makna syarat, seperti: أنى تجلسْ أجلسْ معك
2.      حيثما, isim makan yang meyimpan makna syarat, seperti: حيثما تذهبْ أذهبْ معك
3.      كيفما, isim mubham yang meyimpan makna syarat, seperti: كيفما تجلسْ أجلسْ معك
Sifat menggandeng
dengan ما الزائدة ini adalah suatu pilihan diantara ya dan tidak.
4.      أيٌّ, isim mubham yang meyimpan makna syarat, seperti:
أيَّاماً تَدْعُوْا فَلَهُ اْلاَسْمَاءُ الْحُسْنَى (al-Isro: 110)
Isim ini yang harus dimudhofkan dengan isim lain bersifat mu'rob sesuai kedudukannya dalam I'rob, baik marfu', mansub, atau majrur. Contoh:
أيُّ اْمرإٍ يَخْدُمْ أمَّه تَخْدُمْهَا, بِأَيِّ قَلَمٍ تَكْتُبْ أَكْتُبْ
1.      إذا, isim zaman yang menyimpan makna syarat. Amil yang satu ini unik karena hanya berlaku sebagai 'Awamil al-jawazim hanya pada syair, selain itu tidak, seperti:
إِسْتًغْـــــنِ مَاأَغْنَاكَ رَبُّــــــــكَ بِالْغِنَى    ¯    وَإِذَا تُصْبـــــــكَ خَصَاصَةٌ فَتَجَمّــَلْ

 
1.Klasifikasi fiil mabni
Pembahasan selanjutnya adalah mengenai fiil mabni. Fiil yang mabni adalah fiil madhi dan fiil amar, serta fiil mudhori' dengan kriterianya.
1.Mabninya fiil madhi
Fiil madhi seluruhnya mabni, baik yang tsulasi (tiga huruf) atau ruba'I (empat huruf), begitu pula mujarrod maupun mazid.
Dan ragam kemabnian fiil madhi ada tiga, yaitu;
1.Mabni fath, yaitu bina asli pada fiil ini, dengan kriteria:
1.Bila huruf akhir fiil madhi tidak bertemu dengan apapun (walau huruf akhirnya berupa huruf 'illat, namun mabni fath-nya dikira-kirakan). Seperti: كَتَبَ, فَتَحَ, عَلِمَ, رَمَى, دَعَا, dll.
2.Bila huruf akhir fiil madhi bertemu dengan alif tatsniyah, seperti: رَمَيَا, كَتَبَا, فَتَحَا, عَلِمَا , dll.
2.Mabni dhommah, bila huruf akhir bertemu dengan wawu jama', seperti: كَتَبُوْا, فَتَحُوْا, رَمَوْا, دُعُوْا, dll.
3.Mabni sukun, bila huruf akhir fiil madhi bertemu dengan dhomir rafa' mutaharrik (dhomir muttashil yang menggandeng kepada huruf akhir fiil madhi sebagai indikator pelaku (fail) dari fiil madhi tersebut), seperti: فتحتُ, رميتَ, قمتِ, dll. Yang termasuk dhomir rafa' mutaharrik adalah نَ,تَ, تُمَا, تُمْ, تِ, تُمَا, تُنََّ, تُ, نَا
2.Mabninya fiil amar
1.Mabni sukun, yaitu bina asli fiil ini, dengan kriteria:
1.Huruf Fiilnya tidak berupa huruf 'ilat (baca: shohih), seperti: أُكْتُبْ
2.Huruf Fiilnya bertemu dengan nun niswah, seperti: أكتبن.
2.Mabni hadzf harf 'illat, yaitu Huruf Fiilnya berupa huruf 'ilat (أ,ي,و), seperti: أنج, إسع, إرم
3.Mabni hadzf nun, yaitu bila huruf fiilnya bertemu dengan: alif tatsniyah, wawu jama', atau ya' mukhotobah, seperti: أكتبا, أكتبي, أكتبوا
4.Mabni fath, yaitu bila huruf akhirnya bergandeng dengan salah satu nun taukid (mukhoffah atau tsaqilah), seperti: أكتبنْ, اكتبنَّ
3.Mabninya fiil mudhori'
Keadaan fiil ini ada dua, yaitu diantara mu'rob dan mabni. Keadaan saat mu'rob telah dijelaskan dimuka beserta amil yang mempengaruhi kemu'robannya. Dan kini saatnya mengupas tentang kemabnian fiil mudhori'.
Kemabnian fiil mudhori' didapat ketika huruf akhirnya bergandengan dengan salah satu diantara dua nun taukid atau nun niswah. Yaitu mabni sukun jika bertemu nun jamak inats, dan mabni fathah jika bertemu nun taukid, seperti: يكتبْنَ, يكتبَنْ, يكتبَنَّ
Fi' il - Fi' il

http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_1.gif
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_2.gif
Fi'il itu ada tiga macam, yaitu fi'il madhi, fi'il mudhari' dan fi'il amar, contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_3.gif
Fi'il Madhi
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_4.gif
Lafazh yang menunjukkan kejadian (perbuatan) yang telah berlalu dan selesai. Alamatnya ialah, sering dimasuki ta tanits yang di-sukun-kan.
Contohnya seperti:
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_5.gif
Fi'il Mudhari'
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_6.gif
Lafazh yang menunjukkan kejadian (perbuatan) yang sedang berlangsung dan yang akan datang. Alamatnya ialah, sering dimasiki sin, saufa, lam dan lan.
Contoh http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_7.gifmenjadi http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_8.gif; atau http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_9.gifmenjadi http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_10.gif; atau http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_11.gifmenjadi http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_12.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_13.gifmenjadi http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_14.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_15.gifmenjadi http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_16.gifdan sebagainya.
Fi'il Amar
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_17.gif
Lafazh yang menunjukkan kejadian (perbuatan) pada masa yang akan datang. Alamatnya ialah, sering diberi ya muan nats mukhathabah dan menunjukkan makna thalab (tuntutan), seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_18.gifmenjadi: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_19.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_20.gifmenjadi: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_21.gifdan sebagainya.
Kata nazhim:
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_22.gif
Menurut mereka (ahli Nahwu) fi'il mempunyai tiga fungsi yaitu: fi'il madhi, fi'il amar dan fi'il mudhari'.
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_23.gif
Tanda fi'il madhi
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_24.gif
Fi'il madhi selamanya di-fathah-kan huruf akhirnya.
Contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_25.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_26.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_27.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_28.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_29.gif
Perlu diketahui, bahwa yang dimaksud dengan di-fathah-kan huruf akhirnya, ialah fathah secara lafazh seperti contoh tadi, dan fathah secara perkiraan, seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_30.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_31.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_32.gif; fathah huruf akhirnya itu harus diperkirakan pula bilamana fi'il madhi-nya bertemu dengan dhamir marfu' (dhamir yang di-rafa'-kan) karena menjadi fa'il-nya, seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_33.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_34.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_35.gif.
Kata nazhim:
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_36.gif
Fi'il madhi itu selalu di-fathah-kan huruf akhirnya jika terlepas dari dhamir mutaharrik yang di-rafa'-kan.
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_37.gif
Tanda fi'il amar
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_38.gif
Fi'il amar selamanya di-jazm-kan (huruf akhirnya).
Contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_39.gif, http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_40.gif, http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_41.gif, http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_42.gifdan sebagainya.
Perlu diketahui, bahwa fi'il amar selamanya harus di-jazm-kan huruf akhirnya bilamana fi'il madhi-nya yang ber-mabni shahih akhirnya, seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_43.giftetapi bila fi'il madhi-nya terdiri dari fi'il yang ber-mabni mu'tal akhir seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_44.gifmaka fi'il amar-nya harus dibuang huruf 'illat-nya, yaitu http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_45.gifmenjadi http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_46.gifmenjadi http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_48.gifmenjadi http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_49.gif; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_50.gifmenjadi http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_51.gifdan sebagainya.
Kalau fi'il amar itu harus disertai dengan dhamir tatsniyah, seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_53.gifatau dhamir Jamak. Seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_54.gifatau dhamir muannatsah mukhathabah, seperti http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_55.gifmaka tanda jazm-nya dengan membuang (menghilangkan) huruf nun.
Kata nazhim:
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_56.gif
Fi'il amar di-mabni-kan atas sukun atau membuang huruf 'illat atau nun.
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_57.gif
Tanda fi'il mudhari'
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_59.gif
Fi'il mudhari' yaitu, fi'il yang diawali dengan salah satu huruf zaidah yang empat yang terhimpun dalam lafazh http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_60.gif(hamzah, nun, ya, ta) dan selamanya di-rafa'-kan, kecuali dimasuki amil yang me-nashab-kan atau yang men-jazm-kan (maka harus disesuaikan dengan amil-nya).
Maksudnya: Fi'il mudhari' itu harus selalu di-rafa'-kan huruf akhirnya dan huruf awalnya harus memakai salah satu dari huruf zaidah yang empat, yaitu hamzah, nun, ya, dan ta, seperti lafazh:
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_61.gif= dia sedang melakukan (sesuatu);
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_62.gif= kamu sedang melakukan (sesuatu);
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_63.gif= aku sedang melakukan (sesuatu);
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_64.gif= kami (kita) sedang melakukan (sesuatu).
Kiaskanlah arti fi'il-fi'il mudhari' lainnya. Kecuali kalau dimasuki amil yang me-nashab-kan, maka harus di-nashab-kan, seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_65.gifatau dimasuki amil yang men-jazm-kan, maka harus di-jazm-kan, seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_66.gif
Perlu diketahui, bahwa fi'il mudhari' itu ada yang di-rafa'-kannya secara lafazh seperti contoh tadi, dan ada pula yang secara perkiraan, seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_67.gifdan sebagainya.
Kalau fi'il mudhari' yang mu'tal akhir itu seperti: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_68.gif, di-nashab-kan maka menjadi: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_69a.giftetapi kalau di-jazm-kan, maka harus dibuang huruf 'illat-nya, sepertl: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_69.gifsebagaimana yang akan diterangkan.
Kata nazhim:
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_70.gif
Para ahli nahwu mengawali fi'il mudhari' dengan salah satu dari huruf zaidah yang empat yaitu, hamzah dan nun, demikian pula ya dan ta yang terhimpun pada lafazh http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_71.gif(wahai pemuda! Engkau telah mendekatkan diri).
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_72.gif
Fi'il mudhari' yang terbebas dari amil yang me-nashab-kan dan yang men-jazm-kan selamanya harus rafa'.
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_73.gif
Amil-amil yang me-nashab-kan fi'il mudhari
http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_74.gif
Amil yang me-nashab-kan itu ada sepuluh, yaitu: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_75.gif(bahwa): http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_76.gif(tidak akan); http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_77.gif(kalau begitu); http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_78.gif(agar); http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_79.gif(supaya); lam juhud sesudah nafi; http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_80.gif(sehingga); jawab dengan fa; jawab dengan wawu, dan au (kecuali).
Maksudnya: Amil yang me-nashab-kan fi'il mudhari' itu ada sepuluh macam dan terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
Bagian pertama: yang me-nashab-kan secara langsung (dengan zatnya sendiri) yaitu:
  1. http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_81.gifcontoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_82.gif= bacaanmu mengagumkan aku.
  2. http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_83.gifcontoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_84.gif= orang malas tidak akan bahagia.
  3. http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_85.gifcontoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_86.gif= kalau begitu aku akan menghormatimu.(Sebagai jawaban dari orang yang mengatakan: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_87.gif= besok aku akan berkunjung padamu).
  4. http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_88.gifcontoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_89.gif= aku datang padamu agar engkau mengajariku.
Bagian kedua: yang me-nashab-kan secara tidak langsung, yaitu oleh lafazh http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_90.gifyang tersembunyi, bahkan ada yang harus disembunyikan, yaitu ada enam macam:
  1. http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_91.gif, contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_92.gif, asalnya: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_93.gif
  2. http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_94.gif, yaitu lam yang berada pada kalimat yang di-nafi-kan, contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_96.gif= Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka. (al-Anfal: 33) Asalnya: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_97.gif
  3. http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_98.gif, dengan arti http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_100.gif, seperti dalam contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_101.gif= carilah ilmu sampai maut menjemputmu, atau dengan arti Iam ta'lil, seperti dalam contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_102.gif= carilah ilmu, karena Allah akan memberi pahala kepadamu.
  4. Menjawab dengan fa, seperti dalam contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_103.gif= menghadaplah, maka aku akan berbuat baik padamu.
  5. Menjawab dengan wawu ma'iyyah, seperti dalam contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_104.gif= menghadaplah, kusertakan kebaikan untukmu.
  6. http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_105.gifdengan makna http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_106.gif, seperti dalam contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_107.gif= niscaya aku akan menghinakanmu, kecuali kamu melakukan pekerjaan yang sudah menjadi kebiasaanmu. Atau http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_108.gifdengan makna http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_106.gif, seperti dalam contoh: http://www.cybermq.com/gambarpustaka/Fi%27il-fi%27il_107.gif= aku benar-benar akan menuntut ilmu sampai aku menguasai ilmu-ilmu agama.

0 komentar:

Poskan Komentar